Skip to main content

“Jatuh Suka” by Tulus

Ada kalanya hati tidak meminta izin untuk jatuh. Ia hanya tahu satu hal: berdebar. Begitulah kira-kira inti dari lagu “Jatuh Suka” milik Tulus, sebuah karya yang sederhana namun jujur tentang seseorang yang terperangkap dalam perasaan yang tidak seharusnya tumbuh.

Lagu ini bukan tentang cinta yang berhasil, melainkan tentang rasa yang lahir di waktu yang salah. Tentang seorang pria yang tanpa sengaja jatuh hati pada seorang wanita, namun sayangnya, wanita itu sudah memiliki seseorang di sisinya.

Alih-alih memaksa, sang pria memilih untuk mengakui rasa itu dalam diam, sambil menegur dirinya sendiri: “Maafkan, aku jatuh suka.”

Kalimat sederhana itu menyimpan beban emosional yang besar. Ia tahu, perasaannya tidak pantas diperjuangkan. Namun bagaimana mungkin ia menolak sesuatu yang datang begitu alami? Tulus menggambarkan keadaan itu dengan begitu lembut tanpa drama, tanpa keluhan, hanya pengakuan tulus bahwa hati memang tak bisa selalu dikendalikan.

Di balik liriknya yang romantis, “Jatuh Suka” adalah refleksi tentang kerentanan manusia dalam mencintai. Tentang bagaimana seseorang bisa begitu mudah terpikat oleh pesona orang lain, bukan karena niat, tapi karena getar yang tak bisa dijelaskan. 

“Ini semua bukan salahmu, punya magis perekat yang sekuat itu.”

Kalimat itu seolah menjadi pembelaan bagi kedua pihak, bagi dia yang jatuh suka, dan bagi dia yang disukai tanpa tahu. Tidak ada yang salah, tidak ada yang berdosa. Hanya ada perasaan yang datang di waktu yang tidak tepat.

Musik Tulus di lagu ini mengalun lembut, seakan menjadi selimut bagi luka yang tidak berdarah. Vokalnya yang hangat membuat pendengar tidak merasa sedih, tapi justru tenang, seolah-olah dia sedang berkata, “Tak apa, setidaknya aku pernah merasakan indahnya jatuh suka.”

Pada akhirnya, lagu ini mengajarkan bahwa mencintai tidak selalu harus memiliki. Kadang, cukup dengan mengakui rasa itu, lalu melepaskannya dengan tenang. Karena tidak semua cinta harus berakhir dalam pelukan, ada juga cinta yang cukup diakui dalam hati.

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...