Skip to main content

"Cinta & Luka" by Club Eighties


Ada cinta yang tidak pernah sempat berjalan, bukan karena tidak cukup besar, tetapi karena tak pernah diberi ruang. Itulah inti dari lagu “Cinta dan Luka”—kisah seseorang yang mencurahkan seluruh hatinya pada seseorang yang bahkan tidak pernah menoleh untuk melihatnya secara utuh.

Lagu ini bercerita tentang cinta yang terus mengetuk pintu, tetapi tidak pernah dipersilakan masuk.
Tentang seseorang yang berkali-kali mencoba membuka diri, mengungkapkan isi hatinya, berharap ada sedikit balasan, sebaris kata, atau sekadar isyarat. Namun yang ia dapatkan hanyalah diam—diam yang panjang, dingin, dan terasa seperti jawaban paling jujur.

Sosok “dia” dalam lagu ini digambarkan sebagai seseorang yang hadir—selalu hadir—namun tidak pernah benar-benar kembali. Ia adalah tempat cinta itu berlabuh, tapi tidak pernah menjadi rumah. Ia datang membawa cerita, luka, bahkan air mata; dan tokoh utama disini menjadi tempat ia bersandar, menjadi bahu yang ia pilih saat dunianya runtuh. Ironisnya, saat dia kembali bahagia, ia selalu memilih kembali kepada orang lain.

Di sinilah perih lagu ini terasa.
Bagaimana mungkin seseorang bisa terus memberi ketika ia tidak pernah dipilih?

Ada momen ketika dia seolah meminta sang tokoh utama untuk “membunuh perasaannya”. Sebuah permintaan halus bahwa cinta itu tidak akan pernah memiliki arah. Walau tak diucapkan secara frontal, sikapnya cukup jelas: ia tidak bisa, atau tidak mau, membalas.

Namun yang paling pahit bukan penolakannya—melainkan harapan yang terus hidup meski tidak pernah tumbuh. Rasa percaya bahwa mungkin suatu hari ia akan melihat. Mungkin ia akan menoleh. Mungkin ia akan memahami. Tapi kenyataan tak pernah berpihak pada cinta yang berjalan sendirian.

Pada akhirnya, “Cinta dan Luka” adalah refleksi tentang perasaan yang menggantung di udara, tidak pernah jatuh, tidak pernah juga hilang.
Ini bukan kisah patah hati karena ditinggalkan; ini kisah patah hati karena tidak pernah dianggap sejak awal.

Lagu ini mengingatkan kita bahwa ada cinta yang hanya bisa dipendam, ditelan, dan akhirnya diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Cinta yang tidak pernah berbalas bukan berarti tidak bernilai—ia hanya hadir untuk mengajarkan keberanian: keberanian untuk mengungkapkan, dan keberanian untuk melepaskan.

Karena tidak semua cinta diciptakan untuk dijawab.
Beberapa hanya untuk dirasakan, lalu dibiarkan perlahan memudar bersama waktu.

Lirik:

Pernah kutawarkan isi hatikuTuk redakan setiap luka hatimuPernah kuungkap tuk milikimuKau membisuApakah itu jawabmu?
Chorus:Pernah kukira iniTentang cintaOh ternyataHanya sahabat setia
Pernah kau mintaBunuh cintakuKau membisuTakkan pernah jawabku
Semua yang kurasakanTak mungkin dapat kuhapuskanWalau kau bersamanyaMenjalin kisah cinta nyataDan terluka
OhSetiap tetes air mataS'lalu kau menangis di pelukkuNamun setiap saat kau bahagiaSelalu kau memilih bersamanya
Pernah terpikir tuk tinggalkanmu....

Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...