Pertemuan kita singkat, bahkan lebih singkat dari senja yang perlahan menghilang lalu digantikan oleh malam yang dingin dan sunyi.
Kita datang dari luka, dua jiwa yang sama-sama patah. Lalu duduk bercerita tentang luka masing-masing, tentang hancurnya masa lalu, dan tentang betapa sulitnya percaya lagi.
Anehnya, dalam rapuh kita, justru sayap mulai tumbuh kembali. Kita mulai terbang pelan-pelan, mengira arah yang sama akan membawa kita pada rumah yang sama.
Tapi waktu ternyata tidak sebaik yang kita sangka. Jarak bukan lagi sekadar angka—ia adalah hari-hari yang dipenuhi rindu, prasangka, dan rasa tidak cukup. Argumen kecil yang awalnya bisa kita tertawakan, perlahan berubah menjadi dinding yang membisu. Kita mulai saling menahan kata, takut salah, takut melukai—tapi akhirnya diam justru lebih menyakitkan daripada amarah.
Kepercayaan, yang semula tumbuh dari luka yang kita rawat bersama, pelan-pelan terkikis. Bukan karena kita tak saling percaya lagi, tapi karena kita terlalu lelah menebak, terlalu takut kehilangan, hingga akhirnya justru kehilangan itu sendiri tanpa disadari.
Beban yang menumpuk di antara kita tidak punya bentuk, tidak punya nama—tapi ia ada, nyata, dan menggantung seperti awan yang tak kunjung hujan. Kita diam, saling berharap ada yang mengerti. Tapi tak satupun kata yang mampu menjelaskan, tak satu pun pelukan yang bisa menyembuhkan.
Pada akhirnya kita saling melepaskan, dengan separuh hati yang masih ingin bertahan. Kita kembali menjadi asing, membawa luka baru yang ironisnya berasal dari tempat yang dulunya terasa nyaman.
Kini, yang tersisa hanya kenangan. Tentang tawa yang dulu, tentang panggilan malam yang membuat waktu terasa lebih hangat. Tapi semua itu tinggal jejak. Karena kita—kita adalah yang patah sebelum benar-benar bertumbuh.

Comments
Post a Comment