Skip to main content

Yang Patah Sebelum Bertumbuh

Pertemuan kita singkat, bahkan lebih singkat dari senja yang perlahan menghilang lalu digantikan oleh malam yang dingin dan sunyi. 

Kita datang dari luka, dua jiwa yang sama-sama patah. Lalu duduk bercerita tentang luka masing-masing, tentang hancurnya masa lalu, dan tentang betapa sulitnya percaya lagi. 

Anehnya, dalam rapuh kita, justru sayap mulai tumbuh kembali. Kita mulai terbang pelan-pelan, mengira arah yang sama akan membawa kita pada rumah yang sama.

Tapi waktu ternyata tidak sebaik yang kita sangka. Jarak bukan lagi sekadar angka—ia adalah hari-hari yang dipenuhi rindu, prasangka, dan rasa tidak cukup. Argumen kecil yang awalnya bisa kita tertawakan, perlahan berubah menjadi dinding yang membisu. Kita mulai saling menahan kata, takut salah, takut melukai—tapi akhirnya diam justru lebih menyakitkan daripada amarah.

Kepercayaan, yang semula tumbuh dari luka yang kita rawat bersama, pelan-pelan terkikis. Bukan karena kita tak saling percaya lagi, tapi karena kita terlalu lelah menebak, terlalu takut kehilangan, hingga akhirnya justru kehilangan itu sendiri tanpa disadari.

Beban yang menumpuk di antara kita tidak punya bentuk, tidak punya nama—tapi ia ada, nyata, dan menggantung seperti awan yang tak kunjung hujan. Kita diam, saling berharap ada yang mengerti. Tapi tak satupun kata yang mampu menjelaskan, tak satu pun pelukan yang bisa menyembuhkan.

Pada akhirnya kita saling melepaskan, dengan separuh hati yang masih ingin bertahan. Kita kembali menjadi asing, membawa luka baru yang ironisnya berasal dari tempat yang dulunya terasa nyaman.

Kini, yang tersisa hanya kenangan. Tentang tawa yang dulu, tentang panggilan malam yang membuat waktu terasa lebih hangat. Tapi semua itu tinggal jejak. Karena kita—kita adalah yang patah sebelum benar-benar bertumbuh.



Comments

Popular posts from this blog

Republik Maya: Prologue

Prologue Di sebuah tempat bernama Republik Maya, orang-orang hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar saling mengenal. Mereka berbicara setiap hari, tertawa di ruang obrolan yang sama, saling mengirim meme, musik, game dan cerita tentang hidup. Namun, di balik semua itu, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, "Jangan bawa perasaan di grup" Raka tahu aturan itu. Semua orang tahu. Lalu datanglah Nara. Awalnya biasa saja. Ia hanya anggota baru yang sering muncul di kanal musik setiap malam. Suaranya tenang, dan caranya mendengarkan membuat siapa pun merasa dihargai. Mereka semua mulai sering berbincang. Tentang film, musik, konspirasi, sampai mimpi-mimpi yang bahkan belum berani mereka ceritakan kepada dunia nyata. Tanpa sadar, Raka mulai menunggu notifikasi yang hanya berasal dari satu nama. Kalimat itu berkali-kali muncul di kepalanya. Ia ingin mengatakannya. Sangat ingin. Namun setiap kali jari-jarinya menyentuh keyboard, kata-kata itu menghilang begitu saja. "Hi.....

After Kawi's story

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalaman mengerikan yang kualami setelah perjalanan kami ke Gunung Kawi beberapa tahun lalu. Demi menjaga privasi dan kerahasiaan beberapa orang yang terlibat, aku akan menggunakan nama, tempat dan latar waktu samaran dalam cerita ini. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan secara terbuka. Aku hanya berharap, lewat cerita ini, kalian bisa mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati kalau suatu hari nanti memutuskan untuk datang ke tempat yang sama. 2020, Desember - Libur Natal Pada waktu itu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah kantor di Malang, Jawa Timur. Setiap akhir tahun, tepatnya di bulan Desember — bulan yang juga bertepatan dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani — kantor biasanya memberikan libur selama lima hari sampai awal tahun 2021. Di kantor saat itu aku sudah punya beberapa teman di lingkungan kerja, salah satunya adalah Mas Deden. Dia merupakan karyawan senior yang su...

Spion Kanan

Hari demi hari berjalan, entah itu kemarin, hari ini, atau besok, kamu selalu sama. Dan tahukah kamu? Itu adalah bagian favoritku. Aku suka setiap kita berboncengan, mengendarai motor bersama, dan merayakan setiap kilometer yang terlewat di jalanan.  Aku bahkan tahu persis apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Memiringkan spion kanan ke arahku, lalu berbisik, 'Cantiknya'. Kamu membiarkan angin membawa kata-kata itu bersamamu, disertai senyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Spion kananmu menangkap segalanya: saat-saat aku menangis, tertawa, cemberut, marah, sampai mengomel. Tapi kamu hanya tersenyum manis melihat pantulanku di sana. Saat-saat itu, aku selalu berpikir kita akan terus seperti ini selamanya. Setiap obrolan dan canda tawa yang kita bagi di atas motor, rasanya seperti perjalanan pulang dengan cerita yang tak pernah usai.  Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, spion kanan itu tak lagi menangkap wajahku. Karena aku sungguh percaya, kita akan terus melewati s...