Skip to main content

Posts

Seperti Kehilangan Tapi Tidak

Dulu, kita adalah seseorang yang mudah sekali tersenyum bahkan meskipun banyak hal yang membuat kita merasa jatuh. Hal-hal kecil pun mampu membuat kita tertawa—matahari pagi, angin yang menerpa wajah, bermain dengan teman atau hanya sekedar mengobrol di teras rumah. Kita bahagia, tanpa alasan yang terlalu rumit. Dunia tidak selalu sempurna, tapi saat itu kita punya cukup alasan untuk terus melangkah ringan, seolah tak ada beban yang benar-benar berat. Tapi entah sejak kapan, senyum itu mulai jarang muncul. Mungkin perlahan, atau mungkin kita terlalu sibuk menyangkalnya. Hari-hari yang dulu berwarna kini berubah menjadi bayang-bayang abu-abu yang tak kunjung pergi. Kita merasa seperti berjalan dalam kabut, tidak lagi mengenali diri sendiri. Tertawa hanya menjadi kebiasaan sosial, bukan lagi luapan hati yang tulus. Yang paling menyedihkan bukan kehilangan orang lain, tapi kehilangan diri kita sendiri — diri kita yang dulu. Diri kita yang ceria, yang penuh harapan, yang percaya bahwa se...

Yang Patah Sebelum Bertumbuh

Pertemuan kita singkat, bahkan lebih singkat dari senja yang perlahan menghilang lalu digantikan oleh malam yang dingin dan sunyi.  Kita datang dari luka, dua jiwa yang sama-sama patah. Lalu duduk bercerita tentang luka masing-masing, tentang hancurnya masa lalu, dan tentang betapa sulitnya percaya lagi.  Anehnya, dalam rapuh kita, justru sayap mulai tumbuh kembali. Kita mulai terbang pelan-pelan, mengira arah yang sama akan membawa kita pada rumah yang sama. Tapi waktu ternyata tidak sebaik yang kita sangka. Jarak bukan lagi sekadar angka—ia adalah hari-hari yang dipenuhi rindu, prasangka, dan rasa tidak cukup. Argumen kecil yang awalnya bisa kita tertawakan, perlahan berubah menjadi dinding yang membisu. Kita mulai saling menahan kata, takut salah, takut melukai—tapi akhirnya diam justru lebih menyakitkan daripada amarah. Kepercayaan, yang semula tumbuh dari luka yang kita rawat bersama, pelan-pelan terkikis. Bukan karena kita tak saling percaya lagi, tapi karena kita terlal...